Sosok dan Kiprah Abuya KH. Nur Hasanuddin bin Abdul Latief

Tak Kenal Lelah Dalam Berdakwah

Menyampaikan amanah ilmu dan risalah agama kepada ummat dibutuhkan sosok yang tangguh dan konsisten. Tak peduli, apapun medan dakwah yang harus ditempuh. Dakwah perlu disampaikan kepada ummt, baik di kota, desa, di pegunungan, bahkan sampai menembus hutan belantara.

Demikain halnya yang dilakukan oleh Kyai Nur Hasanuddin. Ulama muda kita yang satu ini adalah sosok ulama yang mempunyai ghirroh (semangat) dakwah yang tinggi. Meskipun ia bermukim di desa kecil di lereng gunung Bromo tepatnya di desa Gubuk Klakah Poncokusumo Tumpang namun gaung dakwahnya serta perjuangannya dalam menyampaikan ilmu sampai di mana-mana. Baik yang berada di kota maupun di pelosok-pelosok desa daerah lain. Sudah tak terhitung lagi berapa kali ia harus naik turun gunung untuk menemui ummat yang haus akan siraman rohani.

Baca Juga : Biografi Abuya As Sayyid Muhammad bin Alwy Al Maliky

Cinta Ilmu dan Ulama

Kyai Nurhasuddin lahir di Kasin Ban Kota Malang, 41 tahun yang lalu. Ia adalah putra pertama dari pasangan H. Abdul latief dan Hj. Masfufah. Kondisi orang tuanya yang pas-pasan menjadikan Kyai Nurhasanudin kecil harus memeras keringat untuk membantu orang tuanya. Hasil kerjanya dipergunakan untuk biaya sekolah di Madrasah Ibtidaiyyah KH Badrus Salam (madrasah Mu’allimin) di Jagalan.

Kesulitan ekonomi tidak membuat kyai Nurhasanuddin patah semangat untuk menuntut ilmu. Di usianya yang masih kecil itu sudah nampak tanda-tanda kalau ia adalah orang yang haus ilmu. Mulailah kyai Nurhasanuddin mengaji kepada seorang ulama yang tidak jauh dari rumahnya yakni almaghfurrlah Al’alamah Al-Habib Alwi Al-Aydrus, seorang ulama yang sangat alim yang menjadi jujukan para ulama. Karena tidak ingin membebani biaya kepada orang tuanya, anak pertama dari 6 bersaudara itu akhirnya berkhidmah (mengabdi) kepada keluarga Habib Alwi. Pengajian-pengajian yang diajarkan oleh Habib Alwi selalu ia ikuti dengan itikomah dan ia pun sangat patuh dan taat terhadap apa yang diperintahkan oleh gurunya.

Ketika Kyai Nurhasanuddin menginjak usia remaja, Habib Alwi menitipkannya di Pesantren Darut Tauhid yang saat itu diasuh oleh ulama yang sangat alim yaitu Al-Ustadz Abdullah Abdun. Darut Tauhid dikenal sebagai salah satu pesantren di kota Malang yang alumninya banyak yang menjadi ulama besar dan tersebar di seluruh Indonesia. Pada saat itu di Darut Tauhid banyak santri yang merupakan putra dari npara Habaib atau kyai. Karena itulah Kyai Nurhasuddin sempat merasa minder saat masuk pertama kali di pesantren yang berlokasi di samping Universitas Islam Negeri (UIN) Malang tersebut .

Perasaan itupun terkikis oleh wejangan Habib Alwi:” Janganlah terkungkung dengan kekayaan, banyak orang yang menjadi ulama besar dari latar belakang keluarga yang tidak kaya, Imam Ghozali saja menjadi ulama besar, padahal beliau hanyalah anak seorang tukang jahit”.

Pesan gurunya itulah yang menjadi cambuk baginya untuk mendapatkan ilmu yang banyak agar kelak bisa bermanfaat bagi ummat. Selama di Darut Tauhid, Kyai Nurhasanuddin juga berkhidmat (mengabdi) kepada kyai dan keluarganya. Tak heran jika selama nyantri, ia diberi amanah untuk membantu urusan keperluan keluarga kyai. Ia juga selalu setia medampingi sang guru dalam berdakwah.

Sempat terbesit di benaknya bahwa :”suatu saat nanti bila ia dikehendaki oleh Allah bisa mendirikan pesantren, ia ingin pesantren yang akan didirikan itu menggunakan metode ala pesantrennya orang-orang elit namun diperuntukan untuk santri dari kalangan orang-orang alit”.

Naik Turun Gunung Dalam Berdakwah

Tahun 1989, Kyai Nurhasanuddin diminta untuk mengajar di Pondok Pesantren Darut Tauhid Madura asuhan KH. Ali Karar. Di pulau garam ini Kyai Nurhasanuddin mengajarkan ilmu bahasa Arab kepada para santri selama enam bulan. Belaiu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk kulakan bahasa Madura sebagai bekal baginya bila suatu saat nanti berdakwah di komunitas orang-orang Madura

Setelah tugasnya selesai, Kyai Nurhasanuddin kembali ke Kota Malang. Ia diminta oleh gurunya, Habib Alwi agar tidak keluar dari Malang. Di sela-sela menunggu tugas dari sang guru Kyai Nurhasanuddin bertabarukkan mengaji kepada Habib Sholeh bin Ahmad Al-Aydrus yang masih keponakan dari Habib Alwi. Saat itu Habib Sholeh baru saja pulang dari menuntut ilmu di Mekah. Kyai Nurhasauddin serta beberapa orang temannya yaitu KH Ali Mansur Blimbing dan Ustadz Munir merupakan orang-orang yang pertama kali ngaji di Habib Sholeh.

Suatu ketika Kyai Nurhasanuddin kedatangan tamu, yaitu H. Mansur. Ia adalah seorang mantan kepala desa di daerah Gubuk Klakah Tumpang. Suatu daerah yang berada di kaki gunung Bromo dengan masyarakat suku Tengger. Kedatangannya ke kediaman Habib Alwi adalah untuk meminta salah satu murid beliau agar bisa berdakwah di daerah tersebut. Dalam penuturan H. Mansur tak kurang dari 40 orang yang telah mencoba berdakwah di sana, namun tidak tahan dengan godaan masyarakat, baik lahir maupun bathin. Apalagi kebanyakan orang Islam di sana masih menganut ajaran Hindu Budha (kejawen) itu.

Habib Alwi kemudian memberi amanah kepada Kyai Nurhasanuddin untuk berangkat ke Gubuk Klakah. Dengan berbekal ridlo sang guru akhirnya tahun 1991 berangkatlah kyai Nurhasanuddin bersama H. Mansur ke daerah yang cukup dingin itu. Pada mulanya ia dipinjami rumah oleh H. Mansur. Kyai Nurhasanuddin mulai mendekati masyarakat dengan cara mengahadiri majelis-majelis yang diadakan oleh masyarakat seperti majelis tahlilan. Selanjutnya Kyai Nurhasanuddin ikut membina para remaja dengan berbagai kegiatan dengan mengajak mereka mengaji dan berdzikir.

Meskipun tidak banyak yang ikut, namun setidaknya sudah ada beberap a remaja yang mulai mau mengaji kepada Kyai Nurhasanuddin. Tenyata Kyai Nurhasanudin juga harus menerima perlakukan buruk dari masyarakat yang kurang senang dengan Islam. Seperti halnya ulama-ulama sebelumnya yang pernah berjuang di daerah tersebut, setiap malam Kyai Nurhasanuddin harus menerima kiriman barang-barang ghoib (santet).

Melihat banyaknya orang yang belum bisa menerima kehadirannya, suami nyai Hj. Mufidah ini bersama-sama murid-muridnya memohon kepada Allah dengan membaca Rotibul Haddad secara istiqomah. Suatu saat, dalam keadaan setengah sadar Kyai Nurhasanuddin didatangi oleh Kyai Hamid Pasuruan. Kyai hamid berpesan: ” Alhamdulillah anak-anak kamu ajak membaca Rotibul Haddad dan itu adalah wiridanku dan wiridannya ulama-ulama salaf terdahulu. Janganlah kamu tinggalkan bacaan itu setiap malam. Kalau kamu baca insya Allah kamu akan diberikan kekuatan dan pertolongan dalam berdakwah

Meskipun demikian godaan dari masyatakat belum juga berhenti, Kyai Nurhasanuddin hampir tidak kuat menghadapinya. Akhirnya Kyai Nurhasanuddin turun gunung mau sowan ke habib Alwi. Saat itu Habib Alwi sedang mengajar mengaji yang dihadiri oleh para ulama seperti Kyai Bashori Alwi, kyai Abdul Manan, kyai Muslich Sahal dan masih banyak ulama-ulama yang lainnya.

Baca Juga : Biografi Abuya As Sayyid Muhammad bin Alwy Al Maliky

One thought on “Profil Pengasuh Abuya KH. Nur Hasanuddin bin Abdul Latief

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *